TEMANGGUNG
sebagian orang mungkin asing dengan daerah yang bernama Temanggung, tapi bagi para pcinta alam mungkin nama itu sudah tak asing lagi. ya.... sebuah kota kecil yang dikelilingi oleh Gunung Sindoro dan Sumbing. Keindahan alam yang gak ada duanya (hihi) memeberikan kesan tersendiri jika kalian pernah ke Temanggung. Kalah pamor dengan kota Tetangga yang lebih terkenal seperti Wonosobo dan Magelang, tapi tenang aja Temanggung menyimpan banyak kekayaan alam dan budaya, asal kalian mau mengexplore daerah kecil ini, karena banyak tempat yang belum begitu terkenal menjadikan banyak tempat wisata di daerah ini kurang didukung oleh sarana prasarana, tapi aku yakin sih suatu saat pariwisata di Temanggung tidak kalah dengan daerah lain.
sebelum mengetahui lebih lanjut aku mau berbagi tentang asal usul Kota Temanggung yang gak kalah menariknya ^-^
Asal mula kota Temanggung selalu dikaitkan dengan Mataram Kuno yang dikuasai oleh Raja Rakai Pikatan. Pikatan adalah sebuah nama yang dipakai untuk menyebutkan sumber mata air di wilayah Mudal, Temanggung, dimana tempat ini adalah peninggalan atau petilasan Raja Pikatan yang berbentuk bebatuan kuno.
Sejarah Kabupaten Temanggung ditemukan oleh salah seorang warga Kaloran, Temanggung pada bulan November tahun 1983. tercatat bahwa prasasti Wanua Tengah III Tahun 908 M yang telah membuktikan keberadaan Kerajaan Mataram Kuno. Namun benda peninggalan lainnya telah raib dicuri oleh orang tak bertanggung jawab, hanya menyisakan batu yoni dan gentong.
dalam prasasti ini mengambarkan Pikatan adalah sebuah daerah yang didirikan oleh Bihara Hindhu oleh adik raja Mataram Kuno Rahyangta I Hara dan raja yang berkuasa saat itu adalah Rahyangta Rindang / Raja Sanjaya 717 M. Menurut prasasti Mantyasih,pewaris tahta Rake Panagkaran (berkuasa 38 tahun) yang naik tahta pada tanggal 27 November tahun 746 M, Bihara Hindhu Pikatan memperoleh bengkok sawah di wilayah Sima. Menurut prasasti Gondosuli terdapat gambaran jelas mulai dari Kecamatan Temanggung memanjang ke arah barat akecamatan Bulu adalah wilayah wilayah subur dan tentram.
Pengganti dari Raja Pakai Panagkaran adalah Raja Panunggalan yang naik tahta tanggal 1 April 784 M hingga tanggal 28 Maret 803 M. Rakai Panunggalan memiliki wilayah di Panaraban yang sekarang menjadi Kecamatan Parakan. Terdapat jiga peninggalan senuah kendemangan dan abu jenazah di Pakurejo, Bulu. selanjutnya Rakai Panunggalan di gantikan oleh Rakai Warak yang bertempat tinggal di Tembarak dan ditemukan candi di sekitar Masjid Menggoro.
Pengganti selanjutnya adalah Rakai Garung, yang bertahta 24 Januari 828 M hingga 22 Februari 847 M. Raja Rakai Garung memiliki keahlian dalam pembangunan candi dan ilmu falak (perbintangan). dia juga telah membuat PRanata Mangsa yang sampai sekarang masih bisa dilihat dan dinikmati kegunaannya. kemudian Rakai Garung digantikan oleh Rakai Pikatan yang disini ditemukan prasasti Tlasri dan Wanua Tengah III. serta beberapa reruntuhan bena-benda kuno, seperti Lumpang Joni dan arca di daerah Temanggung.
kata Temanggung sendiri diketahui dari buku sejarahkarangan I Wayan Bandrika yang menyebutkan Temanggung di awali dari seorang Raja Rakai Pikatan (Raja Mataram Kuno) untuk menguasai seluruh wilayah Jawa Tengah. Serta merebut kekuasaan dari Raja Bala Putra Dewa, seorang penguasa Kerajaan Syailendra.
raja Rakai Pikatan kemudian membuat strategi dengan menikahi kakak dari Raja Bala Putra Dewa dernama Dyah Pramudha Wardani agar mempunyai andil dan pengaruh kuat di sana. Setelah dia berhasil menikahinya, dia menghimpun kekuatan dengan para prajurit dan senopati agar segera menyerang dan merebut kekuasaan. Rakai Pikatan dibantu Kayu Wangi dalam usaha penyerangan di Kerajaan Syailendra dan menyerahkan wilayah kerajaan pada orang kepercayaannya yang berpangkat demang. Dari kata "Demang" dan wilayah kekuasaan kedemangan itulah nama "Ndemanggung" yang berubah menjadi nama "Temanggung".
berdasarkan Surat Kepurusn Komisaris Jenderal Hindia Belanda, Nomor 11 tanggal 7 April 1826, Raden Ngabehi Djojonegoro ditetapkan sebagai Bupati Menoreh yang berkedudukan di Parakan dengan gelar Raden Tumenggung Aria DJojonegoro. setelah perang Diponegoro berakhir, beliau memindahkan Ibu Kota ke Kabupaten Temanggung. Melalui residen Kedu kepada Pemerintah Hindia Belanda di Batavia, disetujuin dan ditetapkan bahwa nama Kabupaten Menoreh berubah menjadi Kabupaten Temanggung. Persetujuan ini berbentuk Resolusi Pemerintah Hindia Belanda Nomor 4 Tanggal 10 November 1834.
Sumber: http://portal.temanggungkab.go.id/info/detail/2/14/profil.html

2 comments
ditunggu pembahasanya soal tanurejo hehehe
ReplyDeletegak tau mau bahas apa hehe
ReplyDelete